Hari ini atau tepatnya jumat 27 nopember 2009 kita semua ummat muslim di seluruh jagad raya merayakan Hari Raya Idul Adha 1430 H (Dzulhijjah 1430 H) atau kita bisa
menyebutnya dengan Hari Raya Qurban yaitu menyembelih hewan ternak.
"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan sembelihlah hewan.
Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus". Pemberian nikmat oleh Allah kepada manusia tak terhingga.
Kesehatan dan kesempatan juga nikmat yang sangat penting.
Manusia juga diberi nikmat pangkat, kedudukan, jabatan, dan kekuasaan. Segala yang dimiliki manusia adalah nikmat dari Allah baik berupa materi maupun non materi.
Namun bersamaan itu pula semua nikmat tersebut sekaligus menjadi cobaan atau ujian. Meskipun Allah memberikan nikmat-Nya yang tak terhingga kepada manusia,
tetapi dalam kenyataan Allah melebihkan apa yang diberikan kepada seseorang dari pada yang lain.
Sehingga ada yang kaya raya, cukup kaya, miskin, bahkan ada yang menjadi seorang gelandangan berteduh di kolong jembatan.
Demikian juga ada yang menjadi penguasa, ada yang rakyat jelata. Ada pimpinan, kepala, bawahan, dan anak buah.
Ini semua juga dalam rangka cobaan bagi siapa yang benar-benar mukmin dan siapa yang hanya mukmin di bibir saja.
Itulah maka sangat disayangkan bila di antara kita ada yang menyia-nyiakan kesempatan dari Allah yakni tidak mau berpuasa
pada tanggal 9 Zul Hijjah yang disebut puasa Arafah itu. Cobaan tentang harta kekayaan juga berkaitan dengan pelaksanaan ibadah udhiyah yakni menyembelih hewan
yang kita kenal dengan hewan kurban di hari raya Adha.
Maka kita menyembelih hewan kurban di hari Idul Adha ini termasuk meneladani sunnah Ibrahim. Idul Adha memiliki makna yang penting dalam kehidupan.
Makna ini perlu kita renungkan dalam-dalam dan selalu kita kaji ulang agar kita lulus dari berbagai cobaan Allah.
Makna Idul Adha menyadari kembali bahwa makhluk yang namanya manusia ini adalah kecil dan pada hakikatnya yang memiliki puja dan puji itu hanyalah Allah SWT.
Maka alangkah celakanya orang yang gila akan puja dan puji sehingga kepalanya cepat membesar, dadanya melebar bila dipuji orang lain.
Namun segera naik pitam wajah merah padam dan jantung berdetak bila ada orang yang mencela, mengkritik, dan mengoreksinya.
Mari kita menyadari bahwa segala nikmat yang diberikan Allah pada hakikatnya adalah sebagai cobaan atau ujian.
Apabila nikmat itu diminta kembali oleh yang memberi maka manusia tidak dapat berbuat apa-apa. Hari ini jadi konglomerat, esok bisa jadi melarat dengan utang bertumpuk.
Sedang nikmat yang berupa harta hendaknya kita ikhlas untuk berinfaq di jalan Allah seperti untuk berkurban.
Percayalah dalam hal harta apabila kita ikhlas di jalan Allah niscaya Allah akan membalasnya dengan berlipat ganda. Tetapi jika kita justru kikir, pelit, tamak, bahkan rakus,
tunggulah kekurangan kemiskinan dan kegelisahan hati selalu menghimpitnya.
Jumat, 27 November 2009
blog comments powered by Disqus
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

